MALANG — Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional. Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA, Guru Besar Ilmu Bahasa Arab PBA UIN Malang, dipercaya menjadi keynote speaker dalam International Conference on Islamic Studies (INCISST) ke-8 yang diselenggarakan oleh Institut Muslim Cendekia Sukabumi bekerja sama dengan Ittihad Mudarris al-Lughah al-Arabiyah (IMLA) Indonesia pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Konferensi internasional yang berlangsung secara khidmat dan akademis tersebut mengusung tema besar “Peran Islam dalam Mengembangkan Pendidikan, Ekonomi, Hukum, dan Politik untuk Peradaban Manusia.” Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas kontribusi Islam dalam membangun peradaban manusia yang lebih humanis, inklusif, dan berkeadaban.
Rektor Institut Muslim Cendekia Sukabumi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka ruang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan pendidikan Islam dan bahasa Arab yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar keislaman.
Momentum konferensi semakin istimewa ketika Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA didapuk sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya yang berjudul “Islam dan Transformasi Peradaban di Indonesia; Menuju Pendidikan, Ekonomi, dan Politik yang Dibangun di Atas Nilai-Nilai Kemanusiaan”, Prof. Uril menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan peradaban dunia.
Dalam presentasinya, Prof. Uril menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan peradaban. Dengan latar belakang agama, etnis, suku, dan budaya yang beragam, Indonesia dinilai berhasil menjaga harmoni sosial dan menghadirkan kehidupan yang damai serta penuh toleransi.
“Indonesia telah menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk membangun kemajuan. Justru dengan semangat toleransi, moderasi, dan nilai kemanusiaan universal, Indonesia mampu menghadirkan kehidupan yang damai dan harmonis,” ungkap Prof. Uril di hadapan peserta konferensi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa transformasi peradaban tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, peradaban yang kuat harus dibangun di atas fondasi spiritual, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan yang kokoh.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan Islam dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap kemanusiaan.
Konferensi internasional ini turut menghadirkan enam pembicara utama dari berbagai negara, yaitu Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, dan Komoro. Kehadiran para akademisi internasional tersebut memperkaya wawasan peserta mengenai dinamika pemikiran Islam kontemporer dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum, politik, dan budaya.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu memperkuat komitmen akademik dan sosial dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat yang damai, berkeadilan, dan berorientasi pada kemajuan peradaban manusia.
Penyelenggaraan INCISST ke-8 sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi Islam mampu menjadi kekuatan besar dalam membangun jejaring intelektual global serta memperkuat peran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.






